Seseorang Yang Mandiri

Daun-daun dibasahi dengan embun pagi. Ayam berkokok menandakan sang mentari akan segera muncul, memancarkan sinarnya memberi kehangatan pada dunia.
(Kriiiiiiiiiiiinggggggg) sebuah benda berbentuk bulat berbunyi. Kemudian benda itu kupegang dan kumatikan suara bising itu tanpa menggubrisnya untuk bangun. Kasur berhasil membawaku tenggelam dipulau mimpi, dan selimut memeluku erat membuatku enggan untuk bangun. Tapi aku tidak boleh bermalas-malasan, hari ini adalah hari pertama kerja paruh waktuku di sebuah salon wedding sederhana di kawasan ciamis. Sebut saja nama salon itu “Intan salon”. Sebelumnya kenalin, namaku Rara tapi kebanyakan orang memanggilku Ara. Aku salah seorang siswi Sekolah Menengah Atas kelas 3 di salah satu sekolah swasta di Ciamis.
…………………………………………………………………………………………………….
“Ara, bangun nak ini sudah siang”
Seseorang yang memanggilku barusan adalah seorang wanita tangguh, wanita hebat yang luarbiasa bagiku. Dia ibuku, ibu sekaligus ayah untukku. Dia rela memerankan dua peran sekaligus di keluargaku. Peran Ayah sebagai tulang punggung keluarga, dan peran ibu rumah tangga yang mengurus semua keperluan rumah tangga. Menurutku ibu hebat, dia tidak pernah mengeluh sekalipun keadaan memang terasa sulit. Hal itulah yang aku bangga darinya, dan aku juga harus bisa menjadi wanita tangguh seperti ibuku.
“Iyaaa bu, ara udah bangun”( sahutku)
Aku segera merapikan tempat tidurku dan bergegas pergi ke kamar mandi, seperti yang aku ceritakan di awal tadi hari ini adalah hari pertamaku bekerja paruh waktu di sebuah salon wedding. Aku memang sangat menyukai make up, meskipun aku hanya memiliki peralatan seadanya tapi aku tidak putus asa untuk belajar. Dan Alhamdulillah aku diterima bekerja di Intan salon setelah sekian lamanya aku menunggu jawaban. Aku bekerja karena ingin meringankan beban ibuku, meskipun berulang kali ibu melarang dan memintaku untuk fokus belajar tapi dengan segala jurus yang aku keluarkan untuk membujuk ibu akhirnya berhasil.
…………………………………………………………………………………………………….
“Sarapan dulu nak, ibu bikin goreng tempe kesukaan kamu” (kata ibuku)
“Wah, rasanya udah lama ibu gak bikin goreng tempe” (kataku)
“Makanya hari ini ibu bikin, ayo makan” (ajak ibu)
Aku makan dengan lahapnya, meskipun hanya menu sederhana tapi itu lebih cukup bagiku mengingat banyak orang diluar sana yang untuk makan saja susah.
Setelah makan aku berangkat bersama dengan ibu sampai ke persimpangan angkot didepan. Ibu berangkat untuk menjajahkan makanan buatannya di sekitar rumah hingga persimpangan. Dan itu bukanlah jarak yang dekat, kebetulan rumahku dari pemberhentian angkot hampir mencapai sekitar 500 meter. Luarbiasa ibuku, Aku sayang ibu melebihi apapun. Dan ketika aku sukses nanti, ibu yang akan pertama kali aku bahagiakan.
…………………………………………………………………………………………………….
“Assalamualakum teh, maaf ya aku sedikit terlambat” (kataku)
“Waalaikumsalam, iya tidak apa-apa ara. Teteh juga baru packing peralatan make up” (kata teh Intan)
Teh intan adalah seorang pemilik intan salon, dia cantik, baik, ramah pula. Hari ini aku akan berangkat menuju sekolah SD untuk mendandani anak-anak SD yang akan mengikuti lomba Sholawat.
……………………………………Skip sekolah……………………………………………..
Hari ini aku pulang agak malam, soalnya setelah mendandani anak SD aku kembali ke salon untuk membantu teh Intan beres2 sekaligus dia bercerita bagaimana cara make up yang baik sesuai usia.
Teh intan memang baik, dia tidak pelit ilmu. Dia selalu mengajarkanku tentang banyak hal.
Sesampainya di depan rumah, aku melihat seorang wanita tetap setia menungguku di depan pintu. Tidak lain dia adalah ibuku, ibu memang selalu cemas ketika aku pulang terlambat. Ditambah lagi di zaman modern ini yang sudah banyak berbagai jenis merk gadget aku tidak memilikinya bahkan untuk sekedar komunikasi dengan ibu, karena aku tidak ingin membebani ibu dengan terus menerus merengek minta di belikan HP.
“Assalamualaikum” (Kataku)
“Waalaikumsalam, yaampun ara kamu kemana aja ibu cemas takut terjadi hal yang tidak- tidak sama kamu. Kamu dari mana aja nak?” (Tanya ibu cemas)
“Tadi setelah makeup di SD aku langsung ke salon lagi bu, kasihan teh intan kerepotan membawa barang” (jawabku)
“Oh pantas saja nak, baiklah ayo kita masuk. Kamu pasti belum makan, ibu sudah masak untukmu” (ajak ibu)
“Ayo bu” (sahutku)
…………………………………………………………………………………………………….
Aku bukan termasuk siswa mampu di sekolah, aku seringkali terlambat membayar SPP yang menyebabkan aku tidak bisa mendapat kartu ujian dan tidak bisa juga mengikuti ujian di ruangan. Kebetulan sekitar 1minggu lagi aku akan menghadapi Ujian Sekolah tapi aku belum bisa membayar untuk uang ujian, aku sudah bilang sama ibu tapi mungkin ibu belum ada uang jadi terpaksa aku harus mengikuti Ujian di ruang khusus bagi siswa/i yang belum bisa membayar. Aku juga belum gajian karena baru bekerja selama 3 minggu di intan salon, mungkin minggu depan aku akan mendapat uang pertamaku bekerja paruh waktu di sana.
……………………………………………………………………………………………………
Seminggu berlalu, hari ini senin 9 Maret 2019 aku akan melaksanakan Ujian Sekolah. Tapi seperti yang aku ceritakan aku blm bisa membayar uang untuk ujian dan terpaksa harus mengikuti ujian di ruang khusus. Tapi tidak apa, asal aku bisa mengikuti ujian itu sudah Alhamdulillah. Untuk pembayaran pihak sekolah memberi keringanan untuk bisa membayar ketika ujian selesai.
Aku akan sediikit bercerita , aku seringkali dijadikan bahan bullyan di kelas oleh teman2. Mereka mengejekku karena belum bisa bayar SPP lah, atau karena ibu ku seorang pedagang keliling. Terkadang aku merasa ingin berhenti sekolah dan bekerja saja. Tapi disisi lain aku melihat ibu, dia rela banting tulang mencari nafkah demi aku bisa sekolah. Jadi ibulah semangatku.
……………………………………………………………………………………………………
4minggu berlalu, dan hari ini adalah hari pertamaku mendapatkan gaji dari hasil kerja paruh waktuku. Tapi ada hal pahit yang harus aku terima, bahwa dihari tepat 1bln aku bekerja disana aku diminta untuk berhenti. Teh intan bilang keadaan ekonominya sedang sulit saat ini, banyak salon2 besar yang mengalahkan bisnis kecilan seperti salon teh Intan ini. Teh intan mulai sepi orderan, calon pengantin lebih memilih memesan jasa WO dari salon yang segalanya sudah lengkap.
Akupun tidak bisa memaksakan diri untuk terus bekerja, aku menerima kenyataan bahwa aku harus berhenti bekerja disana. Teh intan bilang dia akan gulung tikar, lapaknya akan dia jual dan dia pun akan pindah ke bandung ikut bersama suaminya.
Aku menceritakan hal ini kepada ibu, dan ibu hanya bisa menyemangatiku agar suatu saat nanti cita-citaku menjadi seorang pemilik WO terkenal akan segera terwujud. Dan sampai aku kuliah, Ibu lah yang membiayai sekolahku tanpa lelah.
END!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai