Suara ramai mengangkat fikiranku, mengalihkan pandangan ke ponselku yang tiba-tiba berdering karena telpon masuk.. “Nay, hari ini ada acara gak?” Tanya cakra mengawali percakapan. “Gak ada, emangnya kenapa?” Kataku “yaudah, pulang sekolah nanti anter gue beli sepatu bola ya. Nanti gue jemput” kata cakra. “Oh, oke” jawabku singkat. “Nanti gue tunggu di depan sekolah lo ya” sambung cakra. “Sip” kataku kemudian menutup telponnya.
Sebelumnya kenalin, nama aku Nayla, dan cakra adalah sahabatku. Aku udah sahabatan lama sama cakra. Kira-kira 7 tahun. Selama 7 tahun itu aku selalu bersama cakra, dari mulai Tk sampai SMP. Kecuali sekarang, aku dan cakra beda sekolah. Aku tipe orang yang suka banget nonton, apalagi kalau nonton drama korea. Kalau udah nonton bisa-bisa aku lupa waktu saking asyiknya, dan cakra tipe orang yang suka banget main bola, sampai-sampai dia pernah cerita kalau dia pengen banget jadi pemain bola profesional.
*teng…teng…teng* suara bel tanda pulang sekolah berbunyi. Ak bergegas membereskan buku dan langsung menuju gerbang. Benar saja, cakra sudah ada didepan sekolahku. “Yuk!” Ajak cakra. Aku hanya menaikan alis kemudian duduk diboncengnya. “Nay, nanti bantuin nawar ya! Biar harga sepatunya bisa dikurangin, kan lumayan sisanya bisa buat traktir lo makan” kata cakra “widih.. asyik dong. Oke nanti gue bantu nawar, tapi bener ya traktir makan, soalnya gue laper banget” jawabku dengan sedikit tertawa. “Iya iya.. asal makannya jangan kebanyakan, bisa tekor dah gue” kata cakra “sembarangan, emang gue serakus itu” jawabku jengkel. “becanda kali, baper banget lo” jawab cakra sambil mengarahkan tangannya ke kepalaku dan merusak kerudungku yang sejak tadi terkena angin.
Tak lama kemudian aku dan cakra sampai di toko sepatu langganan cakra. “Ayo!” Ajak cakra. Aku pun berjalan dibelakangnya. Saat kita masuk, salah satu pelayan toko menghampiri kita dan bertanya “cari apa dek?” “Sepatu bola mas ukuran 40” jawab cakra. “Baiklah tunggu sebentar ya dek.” Pelayan itu pergi membawa sepatu, setelah kurang lebih 2 menit pelayan itu kembali dengan membawa dus yang berisi sepatu pesanan cakra. “Ini dek, dicoba dulu” pinta si pelayan. Kemudian cakra mencobanya, saat dia merasa sepatunya cocok, aku dan cakra mulai menawar dengan harga yang kita inginkan. Hingga akhirnya pelayan itu menjual dengan harga yang aku dan cakra tawar.
Ketika cakra sudah menerima sepatunya, aku dan cakra meninggalkan toko dan mencari makanan yang murah dan enak, juga cocok untuk kantong anak sekolah. Akhirnyakita berdua memilih untuk makan bakso. “Pak, baksonya dua ya!” Pesan cakra. “Nay, satu mangkok cukup kan?” Goda cakra. “Mulai deh, emangnya selama lo kenal sama gue pernah gitu liat gue makan sebanyak itu?” Jawabku sinis. “Ahelah becanda doang sih, iya deh gue minta maaf” bujuk cakra. Aku hanya menatapnya kemudian memalingkan muka kearah lain. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan kita datang. Aku dan cakra langsung menyantapnya. Kemudian setelah selesai makan, cakra langsung membayar dan bergegas mengantarku pulang.
Aku dan cakra memang sudah lama dekat sebagai sahabat, sampai-sampai aku begitu terbuka ketika menceritakan apapun itu. Tapi bukan tidak mungkin kalau persahabatan antara seorang laki-laki dan perempuan benar-benar hanya sekedar sahabat, dan itulah yang saat ini aku rasakan. Aku merasa perasaanku kepada cakra mulai berbeda.
Hari demi hari perasaanku kepada cakra semakin aneh. Aku tau, gak seharusnya aku punya perasaan aneh kayak gini ke cakra. Aku gak mau, kalu aku naikin perasaan sayangku menjadi cinta, itu bisa merusak semuanya. Merusak semua persahabatan yang selama ini telah aku bina bersama cakra. Sejak saat itu, aku mulai menjauhkan semua perasaan aneh itu dan berusaha melupakannya.
Tapi suatu malam, saat aku sedang memikirkan tingkah-tingkahnya yang selalu bisa membuatku tertawa, cakra mengirimku sebuah pesan singkat. “Kamu keluar sebentar ya, aku didepan rumah kamu!” Aku sedikit terkejut embaca pesan dari cakra, gak biasanya cakra memanggilku dengan sebutan kamu. Tanpa membalasnya aku langsung keluar rumah menemui cakra. Aku terkejut saat melihat cakra memegang kertas dengan tulisan “I Love You, mau gak jadi pacar aku?” Aku gak tau harus seperti apa, apa aku harus bahagia atau bagaimana. Tapi perasaan memang tidak bisa dibohongi, malam itu aku menerima cakra menjadi pacarku.
Tidak terasa sudah 6 bulan aku dan cakra bersana sebagai sepasang kekasih. Cakra sangatlah mengerti aku, dia sering menemaniku menonton drama korea meskipun terkadang aku terlalu fokus sampai-sampai mengabaikannya. Tapi dia tidak pernah marah sama sekali dan itu yang membuatku merasa nyaman disisinya. Sampai sebuah masalah menimpa kita berdua dan hubungan itu tidaj bisa dipertahankan lagi. Tapi entah kenapa saat itu cakra benar-benar berubah, dia menjauh dariku dan tidak pernah bertegur sapa ataupun sekedar tersenyum padaku. Aku sempat jengkel dan ingin membicarakan segalanya kepada cakra dan bertanya kenapa dia tidak bisa bersikap seperti dulu lagi. Tapi apa daya, dia memang keras kepala. Dia merasa dirinya paling benar dan tidak mau disalahkan.
Sudah sekitar 2 tahun aku dan cakra seperti musuh, dan ini yang membuatku tidak bisa membiakan hal ini terjadi, sampai beberapa kali aku meminta bantuan orang lain untuk sekedar mengajak cakra ngobrol, tapi itu semua gagal. Aku hanya berusaha sabar dan menanti kapankah aku dan cakra akan bisa seperyi dulu lagi sebelum kita berdua mengenal cinta.
End!